Ada sebuah masa ketika bunga di Tomohon bukan bagian dari parade.
Ia bukan dekorasi kendaraan hias. Bukan pula latar belakang untuk foto wisatawan, slogan pemerintah, atau nama sebuah festival internasional.
Bunga tumbuh di depan rumah.
Ia menjadi pagar. Menjadi batas antara halaman dan jalan. Menjadi bagian dari wajah kampung.
Di jalan-jalan pemukiman, pekarangan ditata rapi. Rumah-rumah berdiri di balik tanaman yang dirawat. Bunga tidak selalu ditanam untuk dijual. Ia hadir karena memang begitulah orang menata ruang hidupnya.
Pemandangan semacam itu ternyata bukan cerita baru.
Lebih dari satu setengah abad lalu, seorang misionaris sekaligus etnografer Belanda bernama Nicolaas Graafland telah mencatatnya.
Catatan itu penting karena membawa kita pada satu pertanyaan sederhana, tetapi menarik: mengapa Tomohon disebut Kota Bunga?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana sebuah slogan pariwisata.
Kota yang tumbuh bersama bunga
Hari ini Tomohon dikenal sebagai kota di dataran tinggi Minahasa yang sejuk, dikelilingi lanskap gunung api dan lahan pertanian. Lokasinya berada di kawasan yang secara ekologis sangat mendukung pertumbuhan berbagai tanaman.
Tanah vulkanik, iklim pegunungan, curah hujan dan kondisi lingkungan membuat wilayah Tomohon memiliki modal alam yang kuat untuk pertanian hortikultura.
Tetapi tanah subur tidak otomatis melahirkan sebuah kota bunga.
Tanah hanya menyediakan kemungkinan.
Manusialah yang mengubah kemungkinan itu menjadi kebiasaan.
Dan kebiasaan, bila dilakukan terus-menerus oleh banyak orang dalam waktu panjang, pada akhirnya dapat berubah menjadi identitas.
Di Tomohon, salah satu kebiasaan itu adalah merawat pekarangan.
Bunga tidak hanya ditempatkan sebagai tanaman penghias. Ia menjadi bagian dari tata ruang rumah dan lingkungan tempat tinggal.
Dari sinilah cerita tentang Tomohon sebagai Kota Bunga menjadi menarik. Identitas itu tidak sepenuhnya lahir dari keputusan pemerintah modern. Ia memiliki jejak yang jauh lebih tua di dalam kehidupan masyarakat.
Ketika bunga menjadi pagar
Pada abad ke-19, Tomohon belum menjadi kota otonom seperti sekarang.
Wilayah pemukiman yang kelak berkembang menjadi Kota Tomohon masih merupakan bagian dari struktur pemerintahan kolonial di Minahasa.
Namun, kehidupan masyarakatnya telah menarik perhatian orang-orang yang datang untuk mengamati Minahasa.
Salah satunya adalah Nicolaas Graafland.
Dalam catatan etnografinya mengenai Minahasa, Graafland menggambarkan bagaimana masyarakat menata lingkungan tempat tinggal mereka.
Salah satu pengamatannya menggambarkan pagar-pagar di tepi jalan yang ditanami berbagai tumbuhan, termasuk bunga.
Dalam terjemahan yang dikenal dalam literatur tentang Graafland, ia menggambarkan tepi jalan dengan pagar yang bersih dan rapi, antara lain berupa tanaman mawar, bunga lonceng, bunga burung, beluntas dan balacai.
Kalimat tersebut mungkin terlihat sederhana.
Tetapi jika dibaca dalam konteks zamannya, ia menyimpan informasi yang jauh lebih penting.
Bunga ternyata sudah menjadi bagian dari lanskap permukiman.
Ia bukan sekadar tanaman yang kebetulan tumbuh di halaman seseorang. Tanaman digunakan untuk membentuk batas ruang, mempercantik lingkungan dan membuat pemukiman terlihat teratur.
Dengan kata lain, bunga telah menjadi bagian dari cara masyarakat membangun dan merasakan ruang hidup mereka.
Pagar hidup bukan hanya pagar.
Ia adalah pertemuan antara fungsi dan estetika.
Ia melindungi halaman, menandai batas tanah, sekaligus membuat jalan kampung terlihat lebih indah.
Dan ketika kebiasaan semacam itu dilakukan oleh banyak rumah secara bersamaan, yang terbentuk bukan lagi sekadar halaman-halaman indah.
Yang terbentuk adalah sebuah lanskap.
Sebelum ada istilah “city branding”
Inilah bagian yang sering hilang ketika orang berbicara tentang Tomohon sebagai Kota Bunga.
Dalam bahasa pembangunan modern, kita mengenal istilah city branding.
Sebuah kota membangun identitas, memilih slogan, membuat logo, menyelenggarakan festival, lalu mempromosikan dirinya kepada dunia.
Semua itu penting.
Tetapi Tomohon memiliki sesuatu yang lebih tua daripada istilah tersebut.
Sebelum ada city branding, sudah ada pekarangan.
Sebelum ada festival bunga, sudah ada bunga di halaman rumah.
Sebelum ada kendaraan hias yang berjalan dalam parade, sudah ada tanaman yang tumbuh di pagar-pagar rumah warga.
Karena itu, identitas “Kota Bunga” lebih menarik bila dilihat sebagai proses yang berlangsung dari bawah ke atas.
Masyarakat terlebih dahulu menjalani sebuah kebiasaan. Pemerintah kemudian mengenali kebiasaan itu sebagai potensi. Setelah itu, identitas tersebut dilembagakan melalui pembangunan dan pariwisata.
Di situlah terjadi pertemuan antara tradisi dan kebijakan modern.
Alam memberi tanah, manusia memberi makna
Tomohon tidak berdiri di ruang ekologis yang biasa.
Kota ini berada di kawasan vulkanik Minahasa, dengan Gunung Lokon dan Gunung Mahawu menjadi bagian penting dari lanskapnya.
Material vulkanik yang membentuk tanah di kawasan ini turut menciptakan kondisi yang mendukung pertanian dan hortikultura.
Tetapi sekali lagi, kesuburan alam saja belum cukup untuk menjelaskan mengapa bunga kemudian menjadi bagian kuat dari identitas Tomohon.
Ada faktor manusia di dalamnya.
Masyarakat memilih tanaman.
Mereka menanam.
Mereka merawat.
Mereka memindahkan bibit.
Mereka memperindah halaman.
Pengetahuan itu kemudian berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam proses panjang tersebut, tanaman tidak lagi sekadar tanaman.
Ia menjadi bagian dari kebudayaan.
Dan kebudayaan sering kali bekerja dengan cara yang sederhana: sesuatu yang dilakukan berulang-ulang sampai akhirnya dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan.
Bunga bukan sekadar benda hias
Di Minahasa, kehidupan sosial masyarakat juga memiliki ruang yang kuat bagi simbol, penghormatan dan hubungan antarmanusia.
Dalam banyak peristiwa sosial, bunga hadir sebagai bagian dari ekspresi perasaan.
Ia dapat muncul dalam suasana bahagia, ketika orang menyambut kelahiran atau pernikahan.
Ia hadir ketika tamu datang.
Ia juga hadir dalam suasana duka.
Bunga menjadi bahasa tanpa banyak kata.
Karena itu, hubungan masyarakat dengan bunga tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan istilah ekonomi atau estetika.
Ada dimensi sosial di dalamnya.
Memberikan bunga berarti memberikan perhatian.
Menghias rumah berarti mempersiapkan ruang untuk orang lain.
Merawat pekarangan berarti menunjukkan bahwa ruang tempat seseorang hidup juga memiliki hubungan dengan lingkungan sosial di sekitarnya.
Dalam konteks masyarakat Minahasa yang mengenal nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap sesama, estetika pekarangan dapat dibaca sebagai bagian dari kehidupan sosial yang lebih luas.
Falsafah Si Tou Timou Tumou Tou—manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain—tentu tidak bisa disederhanakan menjadi alasan tunggal mengapa orang menanam bunga.
Namun ia membantu kita memahami satu hal: kehidupan manusia tidak berdiri sendiri. Ruang rumah, lingkungan, alam dan hubungan antarmanusia saling berkelindan.
Bunga kemudian menjadi salah satu bahasa visual dari hubungan tersebut.
Dari halaman rumah ke ladang penghidupan
Ada titik ketika bunga tidak lagi sekadar sesuatu yang ditanam untuk mempercantik rumah.
Ia mulai menjadi sumber penghidupan.
Perkembangan hortikultura membawa masyarakat Tomohon pada bentuk pertanian yang lebih terarah. Wilayah seperti Kakaskasen dan kawasan sekitarnya kemudian dikenal sebagai salah satu sentra florikultura.
Di sini terjadi perubahan penting.
Tanaman yang dahulu memperindah pekarangan dapat berubah menjadi komoditas.
Pengetahuan merawat bunga berubah menjadi keterampilan bertani.
Kebiasaan berubah menjadi pekerjaan.
Dan pekarangan dapat berkembang menjadi lahan produksi.
Perubahan itu menunjukkan bahwa identitas budaya dan ekonomi tidak selalu berjalan di jalur yang terpisah.
Sesuatu yang awalnya dilakukan karena kebiasaan dan kesenangan dapat berkembang menjadi sektor ekonomi ketika kondisi sosial dan pasar berubah.
Bunga Tomohon akhirnya tidak hanya mempercantik kota.
Ia juga menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakatnya.
Ketika pemerintah menemukan identitas yang sudah ada
Tomohon kemudian memasuki babak baru.
Pada 2003, melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2003, Tomohon resmi menjadi daerah otonom.
Sebagai sebuah kota yang baru berdiri, Tomohon membutuhkan identitas yang dapat membedakannya dari daerah lain.
Dan di sinilah pemerintah menemukan sesuatu yang sebenarnya sudah lama hidup di tengah masyarakat.
Bunga.
Identitas “Kota Bunga” kemudian semakin diperkuat melalui kebijakan pembangunan, promosi pariwisata dan pengembangan florikultura.
Apa yang sebelumnya tumbuh di halaman rumah perlahan naik ke panggung kota.
Festival bunga menjadi salah satu bentuk paling terlihat dari proses tersebut.
Tomohon International Flower Festival kemudian membawa bunga Tomohon keluar dari pagar rumah dan jalan-jalan kampung menuju panggung yang lebih besar.
Kendaraan hias dihiasi bunga.
Rombongan berjalan dalam parade.
Kota berubah menjadi panggung.
Dan bunga menjadi bahasa visual yang digunakan Tomohon untuk memperkenalkan dirinya kepada orang luar.
Di titik ini, sebuah tradisi lokal bertemu dengan industri pariwisata modern.
Dari pagar hidup ke panggung dunia
Perjalanan itu sebenarnya cukup indah jika dilihat sebagai sebuah garis panjang.
Di satu ujung terdapat pagar hidup di depan rumah.
Di ujung lainnya ada festival internasional.
Di antara keduanya terdapat waktu lebih dari satu abad, perubahan ekonomi, perkembangan kota, pertanian hortikultura, kebijakan pemerintah dan perubahan cara sebuah daerah memperkenalkan dirinya.
Namun garis tersebut tidak sepenuhnya putus.
Justru ada kesinambungan.
Bunga yang dahulu tumbuh di pekarangan kini tumbuh dalam skala ekonomi.
Pekarangan yang dahulu menjadi ruang pribadi menjadi bagian dari citra kota.
Kebiasaan warga kemudian menjadi identitas daerah.
Dan identitas daerah akhirnya menjadi bagian dari panggung pariwisata.
Itulah sebabnya menyebut Tomohon sebagai “Kota Bunga” semata-mata sebagai produk promosi pariwisata terasa terlalu sederhana.
Promosi memang memainkan peran penting dalam membentuk citra Tomohon hari ini.
Tetapi promosi itu memiliki bahan baku sosial dan budaya yang sudah tersedia jauh sebelumnya.
Jadi, mengapa Tomohon disebut Kota Bunga?
Mungkin jawabannya justru bukan karena Tomohon pernah memilih sebuah slogan.
Tomohon menjadi Kota Bunga karena bunga telah lebih dahulu memilih tempat dalam kehidupan masyarakatnya.
Ia tumbuh di halaman.
Menjadi pagar.
Mengikuti jalan kampung.
Masuk ke dalam berbagai peristiwa sosial.
Kemudian menjadi bagian dari pertanian.
Lalu berkembang menjadi komoditas.
Setelah itu diangkat menjadi identitas kota.
Dan akhirnya dibawa ke panggung internasional.
Jejak sejarah yang dicatat Graafland pada abad ke-19 memberi kita salah satu bukti penting bahwa praktik memperindah lingkungan dengan tanaman telah hadir dalam kehidupan masyarakat Minahasa pada masa itu.
Tetapi sejarah identitas sebuah kota tentu tidak berhenti pada satu catatan.
Ia berkembang melalui generasi.
Apa yang dicatat seorang pengamat pada abad ke-19 kemudian berkelindan dengan kehidupan masyarakat abad ke-20, perkembangan hortikultura, pembentukan Kota Tomohon pada awal abad ke-21, hingga lahirnya festival bunga yang dikenal lebih luas.
Karena itu, “Kota Bunga” bukan hanya nama.
Ia adalah cerita tentang hubungan antara manusia dan tempat tinggalnya.
Tentang tanah vulkanik yang menyediakan kesuburan.
Tentang masyarakat yang mengubah pekarangan menjadi ruang kehidupan.
Tentang bunga yang bergerak dari fungsi estetis menuju fungsi sosial dan ekonomi.
Dan tentang sebuah kota yang kemudian belajar menjadikan kebiasaan warganya sebagai identitas untuk memperkenalkan diri kepada dunia.
Barangkali, di situlah letak makna sebenarnya dari Kota Bunga.
Bukan pada banyaknya bunga yang dipajang ketika festival berlangsung.
Melainkan pada kenyataan bahwa jauh sebelum dunia datang untuk melihat bunga-bunga Tomohon, orang-orang Tomohon telah lebih dahulu hidup bersama bunga.
Sumber dan rujukan
- Graafland, Nicolaas. De Minahasa: haar verleden en haar tegenwoordige toestand. Batavia/Rotterdam, 1867; edisi revisi, Haarlem, 1898.
- Graafland, Nicolaas. Inilah Kitab Batja akan Tanah Minahasa. Rotterdam, 1863/1867.
- Graafland, Nicolaas. Minahasa: Masa Lalu dan Masa Kini. Terjemahan Y. Kullit. Jakarta: Lembaga Perpustakaan Dokumentasi Indonesia & Penerbit Obor, 1991.
- Renwarin, Paul Richard. Matuari Wo Tona’as: Kebudayaan Minahasa. Jakarta: Cahaya Pineleng, 2006.
- Pemerintah Kota Tomohon. Dokumen Perencanaan Kota Bunga dan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kota Tomohon. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tomohon, 2008.
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon di Provinsi Sulawesi Utara.
